Gunung Anak Krakatau Meletus, Status Waspada Level 2

Berita terkini seputar Anak Gunung Krakatau yang meletus. Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda meletus pada hari Minggu siang tanggal 2 September 2012, sekitar jam 11.30 WIB. Lava Pijar dengan ketinggan 200 hingga 300 keluar dari perut gunung yang pernah menghebohkan dunia pada tahun 1883 ini. Gempa tremor yang disebabkan letusan hingga Senin (3/9/2012) pagi, masih dirasakan sepanjang pesisir Pantai Anyer, Kab. Serang hingga Pantai Labuan, Kab. Pandeglang.
"Akibat letusan dan gempa tremor, kaca-kaca rumah ataupun bangunan lainnya disepanjang Pantai Anyer dan Labuan bergetar," terang Anton Pripambudi, petugas pemantaun Gunung GAK di Pasauran, Kec. Cinangka, Kab. Serang seperti dilansir Pos Kota, Senin (3/9/2012).
Menurut Anton, letusan Gunung Anak Krakatau terjadi sejak Minggu (2/9/2012) sekitar pukul 11:30. "Tadi malam terlihat jelas lontaran lava pijar dengan ketinggian kurang lebih 200-300 meter dari puncak secara terus menerus. Lontaran lava pijar masih terjadi sampai sekarang. Gempa-gempa dan letusan juga masih terekam di pos pemantauan," jelas Anton.
Anton menegaskan meski terjadi kenaikan aktifitas namun letusan Anak Krakatau tidak akan menyebabkan tsunami. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat di pantai Banten dan Lampung agar tetap tenang dan melakukan aktivitas seperti biasa. "Kami menghimbau kepada wisatawan ataupun nelayan agar tidak mendekati Gunung GAK dalam radius 1 km dari titik letusan," tegasnya seraya mengatakan status Gunung Anak Krakatau adalah Waspada Level 2.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di wilayah sepanjang Pantai Anyer, meski merasakan guncangan akibat letusan Gunung GAK namun tidak mempengaruhi aktifitas warga ataupun nelayan. Para nelayan disepanjang pantai mengaku sudah terbiasa dengan aktifitas Gunung Anak Krakatau.
Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono, mengatakan Gunung Anak Krakatau meletus pukul 18.00 WIB. "Kemarin sore pukul 18.00 WIB meletus dan mengeluarkan material pijar. Erupsinya strombolian," kata dia di kantornya di Bandung, Senin, 3 September 2012.
Surono mengatakan, dengan erupsi tipe strombolian itu, gunung itu memuntahkan material pijar hingga ketinggian 200-300 meter. "Dari jauh kelihatan seperti kembang api," kata dia.
Letusan Gunung Anak Krakatau kali ini berbeda dengan letusan gunung itu sebelumnya, kala terjadi letusan eksplosif. Saat itu, terlontar abu hingga ketinggian beberapa kilometer, abu letusannya pun sampai menjangkau Lampung.
Surono mengatakan letusan kali ini minim hembusan abu. Dia sudah mengecek di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, untuk memastikan isu lontaran abu letusannya menjangkau Lampung. "Itu tidak benar abu vulkanik (letusan Gunung Anak Krakatau) sampai ke Lampung," kata Surono.
"Letusannya strombolian, bukan mengeluarkan abu tinggi. Letusannya material pijar, bukan asap. Kalau asap tinggi mungkin sampai ke Lampung. Tapi ini strombolian, materialnya yang dilontarkan cukup berat," ujar dia.
Gunung Anak Krakatau sempat terus menerus meletus antara tahun 2007-2008. Kala itu, letusan yang dihasilkan bertipe eksplosif dengan abu letusannya menjangkau Lampung. "Tapi kalau sekarang kecil kemungkinan abu letusannya sampai ke Lampung, karena letusannya strombolian," kata dia.
Surono mengatakan semua pengukuran seismik aktivitas gunung itu sudah over-scale akibat letusan itu. Sejak kemarin, Minggu, 1 September 2012, pukul 18.00, gunung itu terus-menerus meletus. "Sampai sekarang masih fluktuatif," kata dia.
Menurut dia, aktivitas gunung itu membuat peralatan yang dipasang di seputaran kawah itu tidak berfungsi. Surono menduga solar panel atau sel surya yang memasok listrik untuk peralatan sesimik gunung itu tertutup material letusan sehingga peralatan mati. Kini, hanya 1 alat tersisa yang masih berfungsi merekam aktivitas vulkanik gunung itu.
Meski letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda yang terjadi sejak Minggu (2/9/2012) hingga siang ini masih terasa di sepanjang Pantai Anyer, ternyata tidak mempengaruhi aktifitas pelayaran Pelabuhan Merak – Bakauheni, Lampung. PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak tetap mengoperasikan kapal sesuai kondisi penumpang.
"Aktivitas Gunung GAK sejauh ini belum mempengaruhi pelayanan pelayaran Pelabuhan Merak-Bakauheuni. Kapal tetap kita operasikan sesuai kebutuhan dilapangan," ungkap Mario S Oetomo, Humas PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak dikonfirmasi, Senin (3/9/2012), terkait meletusnya GAK.
Meski demikian, kata Mario, pihaknya akan mengikuti perkembangan aktivitas Anak Gunung Krakatau dengan melakukan kordinasi dengan instansi terkait dan langsung memberikan himbuan kepada pihak manajeman kapal ferry jika memang nantinya membahayakan pelayaran. "Kita minta nahkoda hati-hati dan tetap memperhatikan imbauan," terangnya.
(Op);harian terbit/tempo/poskota;foto:harian terbit